Selasa, 24 Februari 2009

ISOI GELAR RAPAT PERTAMA PENGURUS PERIODE 2008-2011

Lebih kurang 18 orang anggota pengurus ISOI pusat periode 2008-2011 hadir dalam rapat pertama ISOI yang dipimpin langsung oleh ketua umumnya Prof. Dr. Ir. Indroyono Soesilo, M.Sc. pada tanggal 28 November 2008 lalu. Rapat yang bertempat di kantor Menko Kesra tersebut berlangsung lancar dengan agenda utama membahas program kerja ISOI periode 2008-2011. Dalam rapat tersebut, Pak Indro meminta kesediaan dan komitmen dari seluruh anggota pengurus untuk bersungguh-sungguh membantu memajukan organisasi sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Selain itu juga dijelaskan tentang rencana program kerja ISOI ke depan yang berlandaskan pada visi utama, yakni menjadikan ISOI sebagai Organisasi Ilmiah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bidang Kelautan yang Kuat, Berperan dan Dikenal

Lebih lanjut Pak Indro mengemukakan bahwa untuk mewujudkan visi tersebut ISOI harus meningkatkan kualitas ilmiah dan kuantitas anggota ISOI agar organisasi ini menjadi kuat. Eksistensi ISOI harus bisa dirasakan manfaatnya dan dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia sebagai bagian dari peran nyata organisasi. Dalam hal ini, ISOI harus tampil merespon isu-isu kelautan yang sedang marak di tengah masyarakat. Setidaknya ISOI bisa mengambil inisiatif untuk memberikan solusi atas berbagai masalah kelautan yang dihadapi masyarakat saat ini. ISOI harus lebih dikenal masyarakat ilmiah sebagai organisasi profesi yang betul-betul representatif dalam menyuarakan berbagai isu lingkungan khusus-nya di bidang kelautan. Dengan demikian, ISOI diharapkan bisa menjadi tumpuan gene-rasi muda Indonesia untuk membangun sektor kelautan bagi kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia.
================================================================

ISOI RENCANAKAN PROGRAM KERJA YANG LEBIH PROAKTIF

Dalam rapat Pengurus ISOI tanggal 28 November 2008 lalu, terdapat beberapa hal penting yang patut diketahui, di antaranya komitmen pengurus untuk merencanakan program-program kerja sesuai dengan bidangnya masing-masing. Bidang yang dimaksud meliputi bidang organisasi dan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Rencana program itu merupakan penjabaran dari visi utama ISOI yang mengedepankan organisasi ini pada posisi yang kuat, berperan dan dikenal. Hasil kerja ISOI ini diharapkan bisa menjadi masukan yang berharga bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan yang lebih arif lagi dalam mengembangkan sektor kelautan. Dalam hal ini, ISOI akan melakukan kunjungan-kunjungan ke berbagai stakeholders yang punya kepentingan dengan sektor kelautan seperti kunjungan ke Menteri Kelautan dan Perikan-an, Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Perhubungan, Ketua LIPI, Ketua BAKOSURTANAL, Pertemuan dengan Komisi IV DPR RI dan sebagainya. Ini dimaksudkan agar ISOI benar-benar bisa menjadi organisasi yang berpengaruh di level pemerintahan. Sehingga apa yang direkomendasikan ISOI khususnya terkait dengan isu lingkungan dan pembangunan di sektor kelautan dapat diterima dan diterapkan oleh pihak legislatif dan eksekutif.

Selain itu, ISOI akan lebih proaktif menjalin kerja sama dengan Kwarnas Pramuka DKI Jakarta dan pihak lainnya untuk merealisasikan program-program cinta laut. Kerja sama ini dimaksudkan untuk mengajak generasi muda agar lebih mencintai laut dan mengembang-kannnya dengan cara belajar ilmu kelautan di bangku sekolah hingga perguruan tinggi.

Dalam kaitannya dengan kegiatan ilmiah, Pak Indro menyarankan sebaiknya ISOI gencarkan kerja sama dengan organisasi internasional agar eksistensi ISOI ini mendapatkan tempat yang layak diperhitungkan dalam kegiatan-kegiatan ilmiah kelautan baik yang berskala nasional maupun internasional. Dengan demikian, organisasi profesi ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan ilmuan dan peneliti kelautan untuk bergabung dengan ISOI dan mengembangkan riset kelautan di Indonesia. (jef)
====================================================================

Aggota ISOI Raih Profesor Riset ke 68 di LIPI

Anggota ISOI Drs, Pramudji, M.Sc. dikukuh-kan sebagai Prosefor Riset dalam bidang ekologi Laut oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Selasa, 9 Desember 2008. Dalam acara pengukuhan tersebut, beliau menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Mangrove Di Indonesia dan Upaya Pengelolaannya”.

Dalam orasinya, Pak Pramudji menyinggung soal kerusakan hutan mangrove yang sangat memprihatinkan di seluruh Indonesia. Hasil penelitiannya di Delta Mahakam misalnya, menunjukkan penurunan luas area mangrove sekitar 5310 ha. Penurunan ini dilihat dari rentang waktu tahun 1998 – 2004. Jika ditinjau dari aspek ekonomi, kerugian yang ditimbulkan sebagai akibat perusakan hutan mangrove di pesisir Delta Mahakam mencapai sekitar 394 miliyard rupiah. Apabila tidak ada perhatian pemerintah terhadap kondisi hutan mangrove di Delta Mahakam sehingga perusakan berlangsung, maka diperkirakan dalam kurun waktu 10 tahun hutan mangrove tersebut akan habis, demikian ungkapnya.

Peneliti yang menjadi anggota ISOI sejak tahun 1983 ini memulai karir penelitiannya di Puslit Oseanografi-LIPI. Dua orang peneliti lainnya yang juga dikukuhkan sebagai Profesor Riset adalah Dr. Khairul dalam bidang Kimia Hayati dan Dr. Eko Baroto Walujo dalam bidang Etnobotani. Keduanya berasal dari Pusat Penelitian Biologi- LIPI, Cibinong.(jef)
============================================================

Pengurus ISOI Bidang IPTEK, Organisasi dan Kesekretariatan Adakan Rapat Kerja

Sebagai tindak lanjut dari hasil rapat pengurus pertama ISOI di kantor Menko Kesra akhir November 2008 lalu, pengurus ISOI bidang IPTEK, bidang Organisasi dan kesekretariatan ISOI telah menyelenggarakan rapat kerja pada tanggal 12 Desember 2008 di kantor Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan RI (BRKP-DKP). Rapat dipimpin oleh ketua bidang masing-masing yakni Dr. Zainal Arifin sebagai Ketua Bidang IPTEK dan Ir. Bambang Herunadi sebagai Ketua Bidang Organisasi dan Dr. Suhartati, M. Natsir, M.Si. sebagai Sekretaris Jenderal ISOI yang membawahi sekretaris organisasi, sekretaris program dan kehumasan.

Sejumlah program telah direncanakan untuk dilaksanakan pada tiga tahun ke depan atau selama periode 2008-2011. Salah satu di antaranya adalah pelaksanaan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ISOI ke VI. Program yang terkait dengan pengembangan Organisasi dan publikasi umum dan ilmiah juga dibahas secara menyeluruh. Hasil rapat ini kemudian akan dibawa ke dalam rapat Pleno Pengurus ISOI pada akhir Desember 2008 untuk diputuskan dan dilaksanakan sebagaimana yang diharap-kan. (jef)
================================================================

BABEL DIRIKAN PUSAT ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI OBSERVASI LAUT

Sektor Kelautan dan Perikanan Provinsi Bangka Belitung (Babel) mendapat perhatian khusus dari Gubernurnya Ir. H. Eko Maulana Ali, M.Sc. Di Provinsi ini telah didirikan Pusat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Observasi Laut Babel atau Babel Ocean Observation Science and Technologies Center (BOOST). Pembangunan ini didasarkan pada kenyata- an bahwa Provinsi Babel merupakan daerah kepulauan yang kaya sumber daya perikan-an. Jumlah potensi produksi sumber daya perikanan tangkap yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Babel diperkirakan menca-pai 499.500 ton per tahun (DKP Provinsi Kepulauan Babel, 2007).

Beberapa konsep sistem BOOST Center adalah sistem terpusat walaupun terdapat banyak stasion pemantau, mudah dioperasi-kan, minimal sampling dalm perolehan data, cepat tanggap, akurat, fleksibel untuk dimo- difikasi dan dipantau serta handal. Ada 14
stasion permanen yang tersebar di seluruh wilayah Kepulauan Bangka Belitung. Stasion-stasion tersebut berfungsi sebagai penyediaan data bagi penelitian dan pengembangan bidang oseanografi. Saat ini data yang dapat digunakan adalah data pasang surut yang sudah bisa diakses oleh stasion pemantau sejak awal tahun 2008.

Secara umum, pusat ini bermanfaat untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh kaum nelayan, wisatawan, perhubungan, pertambangan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Selain itu, juga bisa digu-nakan untuk memberikan peringatan dini tsunami, peringatan air pasang dan perenca-naan pembangunan dermaga. Gubernur sangat mendorong peneliti dan mahasiswa untuk memanfaatkan data BOOST center ini. Bahkan beliau menyanggupi penyediaan akomodasi bagi yang mau melakukan riset ke Babel. Siapa berminat ? (Lib)
===================================================================

HUTAN MANGROVE INDONESIA TERANCAM PUNAH

Hasil penelitian menunjukkan luas area hutan mangrove Indonesia semakin berkurang dari tahun ke tahun. Data Wetlands International sebagaimana yang diungkapkan Drs. Pramudji, M.Sc. dalam orasi pengukuhan Profesor Risetnya 9 Desember lalu, memperlihatkan bahwa luas hutan mangrove di Indonesia pada tahun 2005 tinggal sekitar 1,5 juta ha. Padahal luas hutan mangrove di seluruh kawasan pesisir Indonesia pada tahun 1982 diperkirakan masih sekitar 4,25 juta ha. Pengurangan luas area hutan mangrove ini menjadi indikator terancamnya hutan mangrove dari kawasan pesisir di Indonesia. Bahkan tidak menutup kemungkinan beberapa tahun ke depan, hutan mangrove yang menjadi bagian dari ekosistem pantai yang sangat bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupan biota laut dan manusia itu akan punah.

Dalam penelitiannya, Pramudji membagi tingkat kerusakan itu ke dalam tiga kategori, yakni masih baik, sebagian rusak dan rusak berat. Kondisi terparah terdapat di pantai Utara Nangroe Aceh Darussalam, Teluk Lampung, Tanjung Pasir (Tangerang), Delta Mahakam (Kaltim), Lombok Barat dan teluk Saleh (NTB). Secara umum, kerusakan tersebut disebabkan oleh tiga faktor, yakni faktor antrogenik, faktor alami dan faktor biologis. Penyebab terbesar adalah faktor antrogenik di mana manusia menjadi pelaku utama perusakan itu. Eksploitasi hutan mangrove yang tidak terencana, adanya penebangan liar, pembukaan lahan mang-rove untuk areal pertambakan, pertanian, penggaraman dan pemukiman, kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap manfaat mangrove termasuk juga persepsi negatif masyarakat terhadap kebe-radaan mangrove sudah merupakan contoh konkrit bahwa manusialah sesungguhnya yang punya andil besar merusak ekosistem mangrove tersebut.

Kondisi ini hendaknya menjadi perhatian semua pihak agar kerusakan tersebut tidak berlanjut sehingga hutan mangrove tetap eksis di bumi Indonesia. (Jef)
==================================================================

KEGIATAN ISOI SELAMA PERIODE 2005-2008

1. Kongres VI ISOI

Kongres VI ISOI diselenggarakan di Universitas Hang Tuah Surabaya pada tanggal 5 dan 6 Juli 2005. Kongres ter-sebut bertujuan memilih Ketua Umum baru untuk periode 2005-2008. Saat itu peserta kongres secara aklamasi memilih kembali Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S. untuk menduduki jabatan Ketua Umum ISOI periode 2005-2008. Dengan demikian, hasil kongres pun memutuskan dan mene-tapkan kembali Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, sebagai Ketua Umum ISOI untuk yang kedua kalinya pada tanggal 5 Juli 2005.

2. Pertemuan Ilmiah Tahunan II ISOI

Bersamaan dengan kongres VI ISOI di atas, dilaksanakan juga Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) II ISOI pada tanggal 6 Juli 2005. ISOI Komisariat Daerah Surabaya bertindak sebagai tuan rumah penyeleng-garaan Kongres dan PIT ISOI yang bertempat di Universitas Hang Tuah Surabaya. Kongres dan PIT ISOI tersebut dibuka secara resmi oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi. Lebih kurang 100 makalah ilmiah dipresen-tasikan dalam PIT tersebut. Para peserta PIT berasal dari lembaga riset dan perguruan tinggi, antara lain LIPI, BPPT, LAPAN, UNDIP, UGM, Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol Bali, ITS, ITB, PPGL dan lain-lain. Hasil PIT tersebut kemudian diterbitkan dalam bentuk buku prosiding.

3. Pertemuan Ilmiah Tahunan III ISOI


PIT III ISOI diselenggarakan di Unversitas Diponegoro, Semarang pada tanggal 19 dan 20 September 2006. Tak kurang dari 100 pemakalah hadir mempresentasikan hasil penelitiannya. Hasil PIT III tersebut juga diterbitkan dalam bentuk buku prosiding. Pada saat yang bersamaan ditandatangani juga kerja sama penerbitan jurnal ilmiah “Coastal Developmentt” antara Universitas Diponegoro dan ISOI.


4. Pertemuan Ilmiah Tahunan IV ISOI

PIT IV ISOI diselenggarakan di Bogor pada tanggal 22 dan 23 November 2007. ISOI komisariat wilayah Bogor yang bermarkas di kampus IPB bertindak sebagai tuan rumah kegiatan ilmiah tersebut. Sebagian besar peserta PIT berasal dari kalangan akademik dan lembaga riset yang datang dari wilayah Jabodetabek.

5. Kegiatan Publikasi

Dalam tiga kali pelaksanaan PIT periode 2005-2008, ISOI telah menerbitkan sejumlah publikasi ilmiah terbaru, yakni :
a. Buku Prosiding PIT ISOI 2005 yang diterbitkan tahun 2007
b. Buku Prosiding PIT ISOI 2006 yang diterbitkan tahun 2008
c. Jurnal of Coastal Development (ISOI dan UNDIP) volume 10 No. 1 Oktober 2006
d. Jurnal of Coastal Development (ISOI dan UNDIP) volume 10 No. 2 Pebruari 2007
e. Jurnal of Coastal Development (ISOI dan UNDIP) volume 10 No. 3 Juni 2007

6. Kegiatan Kesekretariatan

a. Menjalin kembali kerja sama program cinta laut untuk generasi muda antara ISOI dan Gelanggang Samudera Jaya Ancol.
b. Pembuatan Leaflet kerja sama Pro-gram Cinta Laut antara ISOI dan GSJA yang dikoordinator oleh ISOI pada bulan Oktober 2008.
c. Pengiriman Profil ISOI kepada sekre-tariat Forum Organisasi Profesi Ilmiah (FOPI) pada bulan Juni 2008.

7. Lain-lain
Diskusi Ilmiah Bulanan yang pernah dilaksanakan pada periode 2003-2005 tidak berlanjut pada periode 2005-2008. Hal ini hendaknya menjadi perhatian pengurus ISOI periode 2008-2011 sekarang ini. (jef)
=================================================================

PESONA WISATA BAHARI PULAU KAIMANA


Kaimana merupakan kabupaten baru hasil pemekaran distrik Fak-Fak yang terbentuk berdasarkan UU No. 26 Tahun 2002. Daerah ini memiliki wilayah laut dengan luas 17.500 km2 dari keseluruhan wilayah 36.000 km2. Kawasan pantainya memiliki keindahan yang sudah lama dikenal di manca negara. Tidak heran, di akhir tahun 1960, penyanyi “Al-Fian” melantunkan lagu yang menggambarkan keindahan Kaimana, yaitu “Senja di Kaimana”.

Pantai di Kaimana seperti halnya Teluk Triton yang dikenal dengan sebutan “Teluk Seribu Pulau” dan Pulau Aiduma, memiliki keindahan alam yang spektakuler dan keanekaragaman hayati (biodiversity) yang tak ternilai. Potensi wisata bahari Kaimana sangat besar untuk dikembang-kan. Hal ini didukung oleh kondisi alamnya yang indah, beragam biota laut seperti ikan paus, hiu, lumba-lumba dan terumbu karang yang masih tergolong baik kondisinya. Tentunya ini tak kalah menarik dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia yang sudah dikenal luas masyarakat nasional maupun internasio- nal seperti Bunaken, Bali dan sebagainya.

Bagi para penyelam atau wisatawan yang ingin berpetualang di dasar laut, pesona terumbu karang dan beragam biota laut dapat dinikmati dengan menelusuri sejumlah gugus pulau (yang belum memiliki nama) dan pulau-pulau sekitar distrik Kaimana, seperti Pulau Adi, Pulau Buuway, Pulau Etna, Pulau Lobo dan Pulau Venu. Keunikan lain yang bisa dinikmati ketika senja tiba adalah muncul sekelompok kelelawar yang keluar dari sarangnya mencari makan. Pesona wisata bahari Kaimana ini tentu bisa menjadi peluang investasi karena telah ditunjang oleh sarana transportasi laut dan udara. (fina)
================================================================

KEGIATAN BUDIDAYA BIOTA LAUT DI PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU

Wilayah Kepulauan Seribu terdiri dari 110 gugusan pulau kecil dengan luas perairan mencapai 699.750 hektar. Wilayah ini memiliki karakteristik tatanan pantai yang dangkal dan terlindungi. Di wilayah ini banyak dilakukan kegiatan budidaya biota laut, seperti budidaya ikan kerapu dan budidaya rumput laut.

Data dari suku Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Administrasi Kepulau-an Seribu DKI Jakarta memperlihatkan jenis-jenis ikan kerapu bernilai ekonomi tinggi yang dibudidayakan meliputi kerapu tikus yang dikenal juga sebagai kerapu bebek, kerapu macan, kerapu lumpur, kerapu lodi, kerapu merah dan kerapu totol.

Sementara itu, budidaya rumput laut juga berkembang baik karena ada permintaan pasar internasional. Beberapa negara yang pembeli rumput laut Indonesia adalah Jepang, Singapura, Hongkong, Denmark dan Perancis. Ada lima jenis rumput laut yang memiliki nilai ekonomis yang dikem-bangkan di Kepulauan Seribu, yaitu Gracilaria, Gelidium, Gelidiella, Hypnea dan Eucheima.

Hal lain yang juga dilakukan adalah transplantasi karang. Kegiatan ini dimak-sudkan untuk memulihkan kembali kondisi terumbu karang yang sudah rusak secara bertahap sehingga dapat mengembalikan fungsi ekosistem terumbu karang sebagai tempat berlindung, mencari makan, dan memijah untuk biota laut. Selain itu, di Kepulauan Seribu juga dikembangkan “Fish Shelter” yang merupakan rumah ikan. “Fish Shelter” disebut juga terumbu karang buatan yang ditempatkan pada lokasi terumbu karang yang sudah mengalami degradasi. Semua kegiatan tersebut dilakukan tanpa merusak lingkungan perairan di Kepulauan Seribu. (st)
============================================================